METODE PENYUSUNAN SKALA PENGUKURAN

PropelleradsHosting Unlimited Indonesia

METODE PENYUSUNAN SKALA PENGUKURAN

 

1.       Likert’s Summated Ratings (LSR)

LSR adalah metode pengukuran sikap yang banyak sekali digunakan karena kesederhanaannya.

 

Langkah Kerja

  1. Tentukan secara tegas sikap terhadap topik apa yang akan diukur, contoh: sikap masyarakat terhadap emansipasi wanita
  2. Tentukan secara tegas dimensi yang menyusun sikap tersebut, menurut Likert, dimensi sikap yaitu: cognitive domain (tahu atau tidak tahu), Affective domain (feeling atau perasaan terhadap sesuatu), Conative domain (sikap/tendensi untuk bertingkah laku)
  3. Susun pernyataan-pernyataan atau item yang merupakan alat pengukur dimensi yang menyusun sikap yang akan diukur sesuai dengan indikator. Item-item yang disusun terdiri-dari item positif dan item negative. Item positif apabila pernyataannya memberikan isyarat yang menyokong/mendukung topik yang diukur
  4. Setiap item diberi pilihan respons yang sifatnya tertutup. Banyaknya pilihan respons biasanya 3, 5, 7, 9, dan 11. Dalam praktek yang banyak digunakan adalah 5, alasannya: bila respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar, bila terlalu banyak maka responden sulit untuk membedakan.
  5. Untuk setiap pilihan respons, jawaban diberi skor berdasarkan kriteria sebagai berikut: Apabila item positif, maka angka terbesar diletakkan pada “sangat setuju”, sedangkan bila item negatif, maka angka terbesar diletakkan pada “sangat tidak setuju”. Skor yang diberikan pada jawaban dijumlahkan, oleh karena itu disebut “Likert’s Summated Ratings”.
  6. Data yang diperoleh ini sifatnya ordinal

 

2.       Semantic Differential (SD)

Diciptakan oleh Osgood yang pada mulanya ditujukan untuk mengukur arti dari sebuah nilai-nilai. Kemudian dengan dilakukan beberapa modifikasi Semantic Differential bisa digunakan untuk mengukur sikap.

 

Langkah Kerja:

  1. Tentukan dengan tegas sikap apa yang akan diukur
  2. Susun item yang menggambarkan dua buah kutub yang berlawanan yaitu positif dan negatif. Di antara kedua kutub itu diberi ruangan untuk repons jawaban. Ada respons yang menggambarkan garis saja dengan panjang tertentu, ada pula yang memberikan garis yang sudah diberi tanda. Setiap responden memberi tanda pada garis tersebut

 

Penilaian terhadap skor bisa lebih mendalam dari pada penilaian Likert’s  Summated Ratings, sebab skor dari Semantic differential dianggap mempunyai tingkat pengukuran interval. Akibat interval, boleh dihitung rata-rata dan simpangan baku.

3.       Method of Successive Interval (MSI)

Kegunaan method of successive interval adalah untuk menaikkan tingkat pengukuran dari ordinal ke interval.

 

Langkah Kerja:

Misal kita membuat sebuah item yang memenuhi criteria Likert’s dengan lima respon jawaban yang dijawab oleh 100 orang responden, maka langkah kerjanya sebagai berikut:

  1. Perhatikan f (frekuensi) responden (banyaknya responden yang memberikan respons yang ada)
  2. Bagi setiap bilangan pada f (frekuensi) oleh n (=100), sehingga diperoleh proporsi:

p1 = 25/100 = 0,25

p2 = 17/100 = 0,17

Free Traffic 468

p3 = 34/100 = 0,34

p4 = 19/100 = 0,19

p5 = 5/100 = 0,05

  1. Jumlahkan p (proporsi) secara berurutan untuk setiap respon sehingga keluar proporsi kumulatif

pk1 = 0 + 0,25 = 0,25

pk2 = 0,25 + 0,17 = 0,42

pk3 = 0,42 + 0,34 = 0,76

pk4 = 0,76 + 0,19 = 0,95

pk5 = 0,95 + 0,05 = 1,00

  1. Proporsi kumulatif (pk) dianggap mengikuti distribusi normal baku
  • Z1 = -0,67 ……. 1-0,25 = 0,75, nilai 0,75 dilihat pada table Z, ternyata yang mendekati adalah 0,7486 ……. 0,67
  • Z2 = -0,20 ……. 1-0,42 = 0,58, nilai 0,58 dilihat pada table Z, ternyata yang mendekati adalah 0,5793 ……. 0,20
  • Z3 = 0,71 ……. nilai 0,76 dilihat pada table Z, ternyata yang mendekati adalah 0,7611 ……. 0,71
  • Z4 = 1,64 ……. nilai 0,95 dilihat pada table Z, ternyata yang mendekati adalah 0,9495 ……. 1,64
  • Z5 = ~ ……. nilai 1 dilihat pada table Z, ternyata yang mendekati adalah 0,9998 ……. ~

Hitung SV (Scale Value = nilai skala) dengan rumus

Density at lower limit – Density at upper limit

SV = ————————————————————

            Area under upper limit – Area under lower limit

 

 

 

 

 

 

 


      SV1 = (0 – 0,3187)/(0,25-0) = – 1,2748

SV2 = (0,3187 – 0,3910)/(0,42 – 0,25) = – 0,4253

SV3 = (0,3910 – 0,3101)/(0,76 – 0,42) = 0,2379

SV4 = (0,3101 – 0,1040)/(0,95 – 0,76) = 1,0847

SV5 = (0,1040 – 0)/(1 – 0,95) = 2,0800

 

  1. SV (Scale value) yang nilainya terkecil (harga negative yang terbesar) diubah menjadi = 1

Transformed Scale Value = Y = SV + |SVmin|

            SV terkecil = – 1,2748 = 1 =è (-1,2748 + 2,2748 = 1)

(- 0,4253 + 2,2748 = 1,8495)

(0,2379 + 2,2748 = 2,5127)

(1,0847 + 2,2748 = 3,3595)

(2,0800 + 2,2748 = 4,3548)

            1 = 1

            2 = 1,8495

            3 = 2,5127

            4 = 3,3595

            5 = 4,3548

 

Daftar Sekarang

Comments

comments

Leave a Reply

Lewat ke baris perkakas