Gara-gara Mengejar Efisiensi Bisa Menjadi tidak Efektif

PropelleradsHosting Unlimited Indonesia

Gara-gara mengejar efisiensi bisa menjadi tidak efektif

Gara-gara mengejar efisiensi bisa menjadi tidak efektif. Bila mengerjakan secara efektif bisa menjadi tidak efisien.

Efekti dan Efisien adalah dua buah kata yang sangat sulit dipahami. Keseimbangan keduanya adalah sesuatu yang ingin dicapai setiap organisasi.

Pertanyaannya adalah bagaimana?
Ketika seorang pengambil kebijakan hendak mengambil sebuah kebijakan tentunya sudah mengkajinya terlebih dahulu.

Sebuah kebijakan akhirnya diambil dan kemungkinan hasilnya bakal efektif dan juga efisien.

Seiring dengan berjalannya sebuah kebijakan setiap kemungkinan bisa saja terjadi, sebagian besar memang sudah dipertimbangkan sebelumnya.

Namun, kadang ada-ada saja yang terjadi diluar perhitungan. Ada tangan tak terlihat yang berperan disini. Sebagai akibatnya bisa jadi terjadi sebuah kerugian besar dikemudian hari.

Ketika sebuah kerugian besar ini terjadi berbagai pihak mulai melempar berbagai opini.

Pihak pembuat kebijakan jelas berada diposisi pesakitan. Diserang dari sana-sini atas kebijakan yang ia ambil. Padahal sebenarnya sebuah kebijakan yang ia ambil sudah dikaji sebelumnya dan semua itu adalah keputusan yang terbaik yang bisa dibuat berdasarkan situasi yang dihadapi saat itu.

Soal permasalahan dimasa depan yang terjadi ini adalah coabaan bagi pengambil kebijakan dan sudah diluar batas kemampuan pengambil kebijakan.

Menghakimi seorang pengambil kebijakan sangat tidak tepat, rasanya lebih baik fokus kepada pencarian solusi atas masalah yang dihadapi.

Free Traffic 468

Terlepas atas semua kesalahan ini pengambil kebijakan juga mesti bertanggung jawab atas kesalahannya yang akhirnya merugikan orang lain.

Semua ini demi masa depan yang lebih baik. Sebagai bahan pembelajaran agar kedepannya pengambil kebijakan dapat lebih berhati-hati dalam membuat sebuah kebijakan.

Hukuman semacam ini sebenarnya kurang baik dan bisa saja berdampak negatif. Kedepannya bisa saja berakibat pada kurang agresifnya pengambil kebijakan dalam mengambil resiko atas sebuah kebijakan.

Imbasnya akan ada keterlambatan akan hadirnya sebuah kebijakan. Karena mereka menjadi takut menghadapi resiko yang ada.

Pengambil kebijakan menjadi kurang berani membuat keputusan. Hasilnya adalah perkembangan bisnis yang lebih lambat.

Kalaupun ada yang berani trus rugi besar maka akan terus di cap macam-macam. Sementara yang berhasil justru dielu-elukan.

Mereka yang berhasil membuat keputusan penuh resiko dan akhirnya membuahkan keuntungan besar biasanya selalu dipuja-puja.

Padahal untuk menghasilkan sesuatu yang besar tentu juga penuh dengan resiko. Nah ketika sosok yang dielukan tersebut akhirnya menderita juga atas keputusan berani yang ia ambil.

Semua orang langsung seolah-olah lupa akan semua hal besar yang dicapai perusahaan berkat gagasan besar yang ia kemukakan lewat sebuah kebijakan.

Disinilah, deritanya pengambil kebijakan. Ketika kebijaknnya menghasilkan sesuatu yang besar ia dielu-elukan.

Ketika ia akhirnya gagal semua kegemilanganya selama ini seolah-olah hilang tak berbekas.

Benar kata pepatah “Karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Karena sebuah kesalahan saja seorang yang dielu-elukan berakhir menyedihkan.

Daftar Sekarang

Comments

comments

Leave a Reply

Lewat ke baris perkakas