Ilustrasi/Pixabay.com

bagitau.id – Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol sedang dibahas Badan Legislasi (Baleg) DPR. Tetapi RUU tersebut mendapat banyak penolakan. Salah satunya dari pengusaha yang tergabung di dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Pengusaha Importir dan Distributor Minuman Indonesia (APIDMI). Kedua perkumpulan pengusaha ini menilai RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol kontraproduktif dengan kondisi industri saat ini.

Para pengusaha merasa semakin diperberat untuk berusaha di Indonesia. Sebelum muncul RUU tersebut saja, sudah ada banyak kebijakan yang mengatur minuman beralkohol.

“Kalau kami pelajari selama 15 tahun terakhir kalau terkait minuman beralkohol itu paling tidak ada 36 peraturan yang mengatur, mengawasi, membatasi kegiatan minuman beralkohol. Dari produksinya dibatasi ada kuotanya, harus memiliki izin, baik pusat maupun daerah. Kemudian harus melapor setiap peredaran per botolnya,” ujar Ipung dikutip dari detikcom, Sabtu (14/11/2020).

BACA JUGA: Mau Hilangkan Bau Amis Ikan? Tak Ada Jeruk, Jahe pun Jadi

Tak hanya itu, lanjut Ipung, konsumen minuman beralkohol juga dibatasi hanya yang berusia di atas 21 tahun. Lokasi penjualan juga dibatasi. Selain itu produk minuman beralkohol juga dilarang untuk beriklan di media manapun.

Pihaknya pun merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Hal itu dirasa karena mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda dengan rokok. Padahal minuman beralkohol dan rokok sama-sama produk yang memberikan kontribusi cukai. Ipung juga mengatakan, pihaknya merasa sangat dipersulit oleh kebijakan yang ada, karena Sebelumnya pemerintah juga membatasi penjualan minuman beralkohol dengan melarang penjualan di minimarket. (bt)