Ilustrasi/Piqsels

bagitau.id– Jika mendapat izin dari Wali Kota Batam dan Gugus Tugas Covid-19 Batam, rencananya Dinas Pendidikan (Disdik) Batam akan membuka belajar tatap muka awal tahun depan.

Baca Juga: Jika Disetujui, Belajar Tatap Muka di Batam Dimulai Awal 2021

Kepala Disdik Batam Hendri Arulan menyebut ada sejumlah teknis pelaksanaan belajar tatap muka yang wajib diterapkan. Diantaranya sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan, pembatasan jumlah siswa di kelas dan penerapan shift belajar.

“Untuk SD dan SMP jumlahnya di kelas maksimal 18 siswa dan TK maksimal 5 orang, dan sudah pasti dilakukan shift belajar,” ujarnya, Senin (23/11/2020).

Selain itu, pihaknya juga membatasi jam belajar siswa, karena saat ini banyak sekolah negeri yang sudah menerapkan shift belajar di sekolah, dan menghilangkan kegiatan olahraga di lapangan.

“Jadi waktu belajar juga pendek, kegiatan belajar mungkin dari jam 8 sampai jam 11 misalnya. Kemudian jam 1 sampai jam 3, ataupun pagi dibuat 2 shift tak masalah, tergantung kemampuan dan keberadaan guru di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Selain itu, Hendri juga melarang kantin sekolah dibuka, karena siswa hanya datang ke sekolah untuk belajar saja. Usai belajar siswa langsung pulang ke rumahnya masing-masing tanpa adanya kerumunan di sekolah.

“Kantin dilarang, jadi tidak ada kantin buka, kegiatan ekstrakurikuler yang bisa bersentuhan juga tidak ada. Jadi anak datang ke sekolah pagi belajar, tidak ada waktu istirahat selesai belajar pulang,” ucapnya.

Hendri juga akan memantau transportasi yang digunakan siswa untuk berangkat ke sekolah. Jika siswa tersebut berangkat dengan menggunakan transportasi umum, pihaknya meminta anak tersebut belajar di rumah saja.

“Kalau dia menggunakan transportsi umum ini kan beresiko, ini bisa kita arahkan mereka tetap belajar di rumah. Jadi kunci terakhir tetap izin komite sekolah dan harus persetujuan orang tua, tidak diwajibkan,” katanya.

Untuk sekolah yang sudah menerapkan shift pagi-sore, pihaknya akan mengatur jadwal belajar di sekolah tersebut. Hendri mencontohkan, bisa saja sekolah tersebut melaksanakan kegiatan belajar dua hari di sekolah dan dua hari belajar di rumah.

Hendri juga meminta, agar orang tua siswa membekali anaknya dengan masker dan hand sanitizer.

“Sekolah juga diwajibkan menyediakan masker dan handsanitizer, namun hanya untuk mengganti masker anak yang rusak atau basah ketika di sekolah. Tentunya kewajiban masker anak di sekolah ini jangan pula dibebankan ke sekolah,” ucapnya. (agung)