Oleh : Supriyanto
Branch Manager PT Solusindo Bintang Pratama
Usia 24 tahun bagi sebuah provinsi adalah fase transisi yang krusial; sebuah titik di mana euforia pembentukan masa lalu harus sepenuhnya bertransformasi menjadi kematangan bertindak. Peringatan Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ke-24 tahun ini mengusung tema yang sangat reflektif sekaligus visioner: “Dari Penyengat, Menyatukan Semangat, Kepri Maju Berkelanjutan”. Tema ini bukanlah sekadar susunan kata indah, melainkan sebuah peta jalan (roadmap) kultural dan strategis bagi Kepri untuk menavigasi masa depannya.
Dari Penyengat: Mengembalikan Kompas Moral dan Intelektual
Pemilihan kata “Dari Penyengat” adalah sebuah pengakuan cerdas terhadap akar sejarah dan maruah Kepri. Pulau Penyengat bukan semata-mata daratan kecil di seberang Tanjungpinang, melainkan episentrum peradaban Melayu. Di sanalah bahasa Indonesia menemukan embrio tata bahasanya, dan di sana pula Raja Ali Haji menorehkan Gurindam Dua Belas—sebuah mahakarya yang meletakkan fondasi adab, kepemimpinan, dan ketuhanan.
Menjadikan Penyengat sebagai titik tolak berarti menyepakati bahwa kemajuan apa pun yang ingin dicapai Kepri tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan moralitas. Di tengah derasnya arus modernisasi dan industrialisasi yang memusat di Kepri, spirit Penyengat mengingatkan para pemangku kepentingan bahwa pembangunan fisik dan ekonomi harus selalu diimbangi dengan pembangunan manusia yang beradab dan berintegritas.
Menyatukan Semangat: Menjembatani Geografi dengan Kolaborasi
Tantangan terbesar Kepri sejak awal berdirinya adalah letak geografis. Dengan lebih dari 2.400 pulau yang membentang dari Selat Malaka hingga Laut Natuna Utara, Kepri rawan mengalami ketimpangan pembangunan. Frasa “Menyatukan Semangat” menjadi jawaban atas tantangan geografis tersebut.
Menyatukan semangat bermakna meruntuhkan ego sektoral antar-kabupaten/kota. Batam dengan kekuatan industri dan investasinya, Bintan dan Tanjungpinang dengan pariwisata serta pusaran pemerintahannya, Karimun dengan potensi maritimnya, hingga Lingga, Anambas, dan Natuna dengan kekayaan alam serta kedaulatan batas negaranya, harus berjalan dalam satu orkestrasi yang harmoni. Kesenjangan infrastruktur antar-pulau harus diatasi dengan konektivitas yang nyata, bukan sekadar janji politis. Keadilan pembangunan adalah kunci utama untuk menyatukan semangat masyarakat pulau.
Kepri Maju Berkelanjutan: Pembangunan yang Tidak Rabun Jauh
Bagian akhir dari tema ini, “Kepri Maju Berkelanjutan”, menuntut visi jangka panjang. Sebagai wilayah kepulauan, masa depan ekonomi Kepri sejatinya ada di laut (blue economy). Potensi pariwisata bahari, perikanan, hingga industri kemaritiman adalah raksasa yang belum sepenuhnya terbangun.
Namun, kata “berkelanjutan” adalah syarat mutlak. Ambisi untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi, menarik investasi asing, dan mengembangkan kawasan perdagangan bebas (FTZ) tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan ekologi. Kerusakan terumbu karang, pencemaran limbah laut, hingga eksploitasi ruang pesisir harus dicegah secara tegas. Kemajuan yang berkelanjutan berarti memastikan bahwa anak cucu di Kepri pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menikmati laut yang biru, udara yang bersih, dan sumber daya alam yang melimpah.
Kesimpulan
Tema Hari Jadi ke-24 ini adalah sebuah panggilan kolektif. “Dari Penyengat” kita mengambil kebijaksanaan masa lalu, “Menyatukan Semangat” untuk menguatkan langkah di masa kini, demi mewujudkan “Kepri Maju Berkelanjutan” di masa depan. Jika ketiga elemen ini mampu diresapi oleh para pemimpin dan seluruh lapisan masyarakat, Riau Islands tidak hanya akan menjadi beranda terdepan Indonesia yang makmur, tetapi juga provinsi yang beradab dan bermartabat. Selamat Hari Jadi ke-24, Provinsi Kepulauan Riau.










