Bagitau.id, ASHGABAT — Nama pahlawan nasional Indonesia dan pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji, kini terukir abadi di bumi Asia Tengah. Pemerintah Turkmenistan mendirikan patung monumen Raja Ali Haji di dalam kompleks Magtymguly Pyragy Cultural Park Complex, yang terletak di kaki Pegunungan Kopetdag, kota Ashgabat.
Penempatan patung ini menjadi bukti nyata pengakuan dunia terhadap kontribusi besar Raja Ali Haji dalam peletakan dasar tata bahasa Melayu—cikal bakal bahasa Indonesia—serta karya sastra fenomenalnya seperti Gurindam Dua Belas.
Simbol Persahabatan dan Penghormatan Tokoh Literatur Dunia
Monumen Raja Ali Haji dibuat dari bahan perunggu murni setinggi 3,5 meter dan berdiri gagah di atas pedestal (tapak) marmer putih. Patung ini ditempatkan berdampingan dengan 23 tokoh literatur, penyair, dan pemikir besar dari berbagai belahan dunia, seperti:
-
William Shakespeare (Inggris)
-
Rabindranath Tagore (India)
-
Honore de Balzac (Prancis)
-
Johann Wolfgang von Goethe (Jerman)
-
Dante Alighieri (Italia)
Kompleks taman budaya seluas 41 hektar ini dibangun oleh Pemerintah Turkmenistan sebagai bentuk penghormatan atas peringatan 300 tahun penyair nasional mereka, Magtymguly Pyragy. Jalur khusus 24 patung pemikir dunia tersebut dirancang untuk melambangkan persahabatan antarbangsa dan persatuan warisan kebudayaan umat manusia.
Sekilas tentang Raja Ali Haji
Lahir dan Besar di Pulau Penyengat (Kepulauan Riau), Raja Ali Haji (1808–1873) dikenal sebagai seorang ulama, sejarawan, dan pujangga. Beliau adalah orang pertama yang mencatat dasar-dasar tata bahasa Melayu melalui karya ilmiah Bustan al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa. Karya gurindamnya, Gurindam Dua Belas, menjadi salah satu pilar nilai moral, etika, dan spiritual kebudayaan Melayu-Nusantara.
Makna Historis bagi Indonesia
Kehadiran patung ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Kepulauan Riau. Penghormatan yang diberikan oleh negara di kawasan Asia Tengah ini membuktikan bahwa karya sastra dan pemikiran dari tanah Melayu memiliki dampak transnasional yang diakui secara global.
Penghormatan di Turkmenistan ini sekaligus memicu langkah Pemerintah Daerah Kepulauan Riau untuk memperkuat pembangunan cagar budaya dan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat, demi memastikan warisan pujangga besar ini tetap lestari di tanah kelahirannya sendiri.
















