Oleh : Supriyanto
Branch Manager PT Solusindo Bintang Pratama
Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Otonom Tanjungpinang pada 17 Oktober 2026 menjadi momen krusial. Angka 25 tahun—seperempat abad—bukan sekadar penanda usia birokrasi sejak mekar dari Kabupaten Kepulauan Riau melalui UU No. 5 Tahun 2001, melainkan titik balik bagi Kota Gurindam untuk mengukur sejauh mana asas otonomi daerah benar-benar menghadirkan kesejahteraan nyata bagi warganya.
Momen Peralihan dari Pemekaran menuju Kemandirian
Dalam rentang 25 tahun terakhir, Tanjungpinang telah melewati transformasi fisik dan struktural yang cukup dinamis. Sebagai Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, status otonom telah memberi keleluasaan dalam mengelola potensi daerah, pembangunan infrastruktur publik, hingga penyusunan kebijakan lokal.
Namun, di usia perak ini, tantangan Tanjungpinang tak lagi sebatas pembangunan fasilitas fisik, melainkan bagaimana memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Ketergantungan pada transfer dana pusat serta sektor pemerintahan perlu diimbangi dengan diversifikasi ekonomi yang inklusif.
Sektor Kunci dan Peluang Strategis Tanjungpinang
Untuk melangkah ke babak berikutnya, ada beberapa fokus utama yang perlu ditajamkan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang bersama seluruh elemen masyarakat:
-
Revitalisasi Ekonomi Berbasis Budaya & Pariwisata: Tanjungpinang memegang posisi unik sebagai pusat kebudayaan Melayu (Penyengat, heritage kota lama). Penguatan sektor ekonomi kreatif, wisata sejarah, serta event kebudayaan bernilai jual internasional menjadi kunci menggerakkan UMKM lokal.
-
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD): Seiring dengan semangat simplifikasi birokrasi dan tata kelola yang efisien, inovasi digitalisasi retribusi dan pajak daerah sangat diperlukan guna mendongkrak PAD tanpa mengabaikan daya beli masyarakat.
-
Penguatan Layanan Publik & Kualitas SDM: Transformasi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan penyediaan infrastruktur dasar (seperti ketersediaan air bersih dan ketahanan energi) harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke wilayah pesisir.
-
Kolaborasi dan Gotong Royong: Pembangunan tidak akan optimal jika hanya mengandalkan anggaran daerah. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan media sangat dibutuhkan untuk menciptakan iklim investasi yang ramah dan inklusif.
Memasang Fondasi Tanjungpinang di Masa Depan
Perayaan 25 tahun otonomi daerah bukan sekadar ajang seremonial tahunan, melainkan panggung refleksi mendalam. Penghormatan terbesar kepada para tokoh pendiri dan pemekar kota ini adalah dengan menjaga marwah Tanjungpinang sebagai kota yang maju, berbudaya, berdaya saing, serta sejahtera bagi seluruh warganya.
Seperempat abad telah berlalu sebagai landasan bertumbuh; saatnya Tanjungpinang melangkah lebih mantap menuju kota otonom yang mandiri, berkarakter, dan berkelanjutan.
